Selasa, 31 Januari 2017
Kepedulian Rumah Yatim, Harapan untuk Ghisya
Rumah Yatim Lampung yang diwakili oleh Asrama Rumah Yatim Tanjung Karang mulai kembali bersilaturahim dengan Ghisya dan keluarganya. Dari silaturahim ini pihak Rumah Yatim dapat terus memantau dan mengenal kondisi mereka sesungguhnya. Walau termasuk kunjungan kedua kalinya, namun pertama kalinya Rumah Yatim bertandang kesana dalam komitmennya peduli untuk Ghisya.
Kepala Asrama Tanjung Karang Welli mengatakan, silaturahim yang dilakukannya selain menjaga komunikasi dengan keluarganya juga membicarakan kelanjutan proses untuk membantu Ghisya. Ia menyampaikan beberapa persyaratan administrasi kesehatan dari dokter yang harus dilengkapi. Proses administrasi jadi salah satu syarat pencairan dana bantuan kesehatan.
Seperti yang telah diungkapkan Welli, Rumah Yatim memberikan santunan biaya hidup kepada Ghisya. Bantuan berupa uang tunai ini bentuk inisiatif Rumah Yatim dalam meringankan biaya kebutuhan sehari-harinya.
“Santunan biaya hidup telah disetujui pihak pusat dalam bentuk bantuan uang tunai. Selanjutnya, kami masih memproses mekanisme bantuan yang diberikan, bersamaan pengajuan biaya kesehatannya. Dan menunggu keputusan dari pihak manajemen cabang,” ungkap Welli.
Dari kunjungan ini terungkap pula, kondisi lain ibunya yang tragis di beberapa tahun lalu. Ia pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga non Muslim di Jakarta dan banyak mendapat tekanan. Mulai dari tekanan pekerjaan, kekerasan, hingga kesehatannya memburuk. Di samping menderita akibat stress, ia juga jarang sekali makan, karena keluarga tersebut memasak makanan yang diharamkan.
“Karena ibunya pernah mengalami trauma ini, yang sampai sekarang masih terasa sakit. Dan ini menjadi catatan kami agar lebih memahami kondisinya. Sedangkan kakaknya ternyata seorang hafidzah, pernah jadi guru bimbel, dan aktif di berbagai kegiatan. Ketika kami tahu hal ini, kami timbul keinginan untuk membantu dalam hal pekerjaan misalnya dengan mengajar di sini,” imbuhnya.
Dari kenyataan tentang keluarga Ghisya, Welli juga melihat titik cerah dari potensi Ghisya yang menjadi sumber kekuatannya untuk maju. Seperti bibinya (kakak ibunya yang membantu Ghisya) Ghisya memiliki kemampuan yang baik dalam membaca dan menghafal Al Quran. Ghisya pun berharap dapat menjadi seorang hafidzah yang baik suatu hari nanti.
“Hampir separuh surat-surat dalam Juz Amma dihafalnya, dan beberapa surat pilihan yang sedang dipelajarinya, selain tahfidz, Ghisya lancar mengikuti kegiatan belajar dan punya prestasi yang baik, terbukti sampai sekarang tidak keluar dari 5 besar di kelasnya,” kata Welli.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, selain silaturahim rutin, anak asuh asrama Rumah Yatim akan diajak bersilaturahim ke rumah Ghisya. Kegiatan positif ini, lanjut Welli, akan menguatkan semangat Ghisya, menambah pertemanan, dan mendidik anak asuh untuk mengasah rasa peduli.
Silaturahim melalui kunjungan kepada mustahiq membuat Rumah Yatim bersyukur semakin mengenal mereka lebih dekat. Silaturahim yang kuat meyakinkan satu sama lain bahwa masih ada harapan bagi mereka.
Seribu Paket Sembako untuk Bantu Ringankan Kebutuhan Mustahik Cibuaya, Karawang
Pada selasa (31/01) Rumah Yatim area DKI Jakarta menggelar kegiatan penyaluran bantuan 1000 paket sembako untuk 1000 mustahik wilayah kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang.
Menurut Dadan selaku kepala cabang Rumah Yatim DKI Jakarta mengatakan bahwa mustahik yang menerima bantuan rata-rata mempunyai mata pencaharian warga Sukasari dominan sebagai pedagang pindang dan tukang ojek, bantuan pun diberikan kepada lansia kurang mampu dan anak yatim.
kegiatan akbar ini akan berlangsung di tiga tempat sekaligus, tempat pertama berlangsung di lapangan kantor kelurahan Sukasari, kegiatan ini diisi dengan pembukaan sekaligus koordinasi dengan ketua dan pegawai kelirahan setempat. Setelah itu pihak Rumah Yatim mulai membagikan bantuan kepada 695 mustahik di kampung Mekarsari tepatnya di mushola Al-Iman. Setiap warga kampung tersebut mengantre dengan tertib untuk mendapatkan bantuan dari Rumah Yatim
“ Syukur Alhamdulillah kegiatan ini sangat positif sekali , kegiatan ini sangat membantu warga kami dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kami sangat mengapresiasi aksi dari Rumah Yatim ini, terima kasih telah membantu kami.” Ungkap Brigadir Idrus Adriani selaku Kanit inter polsek Cibuaya
Karena anak-anak yatim disana sedang bersekolah, bantuan pun diberikan langsung kepada wakil keluarga mereka.”Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Rumah Yatim dan para donatur karena telah peduli kepada kami warga desa Sukasari, alhamdulillah bantuan ini sangatlah membantu kami, semoga Allah membalasnya lebih dari ini.” Ujar Encih salah satu warga Sukasari
sampai berita ini dibuat, kegiatan penyaluran bantuan ini masih berlangsung. “Insya Allah usai menyalurkan bantuan di desa ini, kami akan melanjutkan penyaluran menuju desa Pejaten. Kami akan memberikan bantuan kepada 305 mustahik yang terdiri dari 280 fakir miskin dan 25 anak yatim, mohon doanya agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan sukses dan lancar.” Pungkas Dadan
Pengesahan Empat Balai Pengajian Wilayah Tringgading Pidie Jaya Aceh Usai Renovasi
Rumah Yatim cabang Aceh masih menaruh perhatian pada Pidie Jaya, Aceh. Usai mengelar aksi penyaluran bantuan berupa bantuan tunai peduli sesama, sandang, pangan dan MCK kepada korban gempa Pidie Jaya. Rumah Yatim pun melanjutkan aksinya dengan menggelar kegiatan pengesahan renovasi empat balai pengajian di empat gampong di wilayah Tringgading, Pidie Jaya Aceh.
Keempat balai pengajian yang telah mendapat bantuan renovasi dari Rumah Yatim adalah balai pengajian Al Hikmah, Bitussalam, Darul Ihsandan Al Fatah.
Pada senin (30/01), secara bergilir para pengurus Rumah Yatim mendatangi dan mengesahkan keempat balai pengajian tersebut. Selain mengesahkan balai pengajian, Rumah Yatim pun memberikan santunan berupa 100 mushaf Al-Qur’an, 100 buku iqro dan 100 pakaian koko untuk keempat balai tersebut.
“terima kasih kepada Rumah Yatim atas kepedulian dan bantuannya, Alhamdulillah kami bisa melakukan aktivitas keagamaan seperti sedia kala, semoga Allah memberikan rahmat dan kasih sayang kepada para donatur dan semoga Allah menjadikan Rumah Yatim semakin maju.” Ungkap Adam selaku Teungku balai pengajian Baitussalam
Pengesahan yang terjadi di empat balai desa ini dihadiri Keuhik (kepala gampong), Teungku, dan warga di masing-masing gampong.
“Alhamdulilah kegiatan renovasi balai pengajian telah terlaksana dengan sukses, terima kasih kepada para relawan yang telah membantu kami. Mulai hari ini, anak-anak dan warga sekitar bisa melakukan aktivitas pengajian dan belajar ilmu agama dengan nyaman.” Kata Maman kepala cabang Rumah Yatim Aceh
Menurut Maman, proses kegiatan renovasi di empat balai pengajian ini berlangsung selama 1 bulan.
Sejak pertengahan bulan Desember , Rumah Yatim mengerahkan puluhan relawan untuk membantu merenovasi empat balai pengajian yang rusak akibat gempa yang menimpa Pidie Jaya beberapa waktu lalu. Proses renovasi yang digelar selama satu bulan ini, kini telah membuahkan hasil
100 Paket Sembako untuk Meringankan Beban Warga Sekemirung
Bantuan sembako merupakan sub program kemanusiaan Rumah Yatim, ratusan ribu mustahik diseluruh wilayah penjuru Indonesia telah merasakan manfaat dari program ini.
Salah satu wilayah yang sudah merasakan manfaat dari program ini adalah wilayah Sekemirung kelurahan Cigadung kecamatan cibeunying Kaler, Bandung. Sebanyak 100 paket sembako yang terdiri dari 5 kg beras, 1 liter minyak goreng, 1 kg gula pasir dan 5 bungkus mie instan sudah diterima oleh 100 orang warga RW 09 desa Sekemirung.
“terima kasih kepada Rumah Yatim dan para donatur, Alhamdulillah sudah kami terima bantuan sembakonya . Semoga Allah memberi balasan lebih dari ini, semoga kedepannya Rumah Yatim lebih sukses lagi dan lebih banyak lagi donaturnya.” Ungkap Maryadi
Menurut Budi dari bagian pemberdayaan Jabar mengatakan bahwa kegiatan ini digelar di balai RW, warga diberi kupon antrian agar proses pembagian bantuan dapat terlaksana dengan sukses dan lancar.
Kegiatan ini disambut hangat Nana selaku ketua RW 09, menurutnya kegiatan ini sangatlah membantu para warganya yang rata-rata bekerja sebagai kuli bangunan. “Alhamdulillah warga kami telah mendapat bantuan sembako dari Rumah Yatim, bantuan ini dangatlah membantu meringankan beban warga kami.” Katanya
Baznas Verifikasi program dan Cek Administrasi Rumah Yatim
Selangkah lagi Rumah Yatim mendapatkan sertifikasi Lembaga Amil Zakat Nasional, untuk mewujudkannya pada 26 Januari 2017 pihak Baznas berkunjung ke Yatim Apartement Jl. Lodaya No. 91 untuk memverifikasi kelengkapan dokumen Rumah Yatim.
Menurut Rozalina, Sekjen Rumah Yatim Arrohman Indonesia, verifikasi data tersebut dibagi kedalam dua bagian yakni verifikasi program dan cek administrasi. Untuk itu Rozalina sendiri mendampingi untuk pengecekan administrasi, dimana mereka melihat sejauh mana kebenaran administasi yang sudah diajukan dan juga memberikan beberapa usulan-usulan.
“alhamdulillah, saya melihat signalnya Positif.” Ujarnya.
Selain verifikasi program dan adminstasi pihak Baznas pun meninjau langsung kelapangan dengan melihat kantor pusat Rumah Yatim, sekolah dan juga ke Klinik Rumah Yatim. Lanjut Rozalina, setelah mereka meninjau lokasi dan verifikasi selanjutnya mereka akan memberikan surat rekomendasi untuk pengajuan ke Kementrian Agama.
“menurut pihak Baznas untuk mendapatkan surat rekomendasi tersebut, insya Allah tak lama hanya memerlukan waktu paling lambat 2 minggu, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar sesuai yang diharapkan.” Papar Rozalina.
4 Desa di Cibingbin Mendapatkan Bantuan Tanggap Bencana Rumah Yatim
BNP (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat selama tahun 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, naik 35% jika dibandingkan dengan jumlah bencana pada 2015. Mengawali tahun 2017 Indonesia pun harus berduka kembali, berbagai bencana sudah mewarnai awal tahun yang penuh dengan resolusi ini. Salah satunya adalah bencana banjir bandang yang melanda beberapa kawasan di Indonesia diantaranya adalah di Jawa Barat tepatnya di Cibingbin Kuningan.
Bencana banjir selalu menjadi langganan wilayah-wilayah di Indonesia seperti di Bandung, Jakarta, NTB dan lainnya, pemerintahpun sudah berbagai cara menanggulangi agar bencana itu tak terjadi, karena tak sedikit kerugian materil maupun imateril harus dirasakan oleh warga yang terkena bencana tersebut, apalagi bencana ini termasuk baru dikawasannya seperti di Kabupaten Kuningan Kecamatan Cibingbin. 6 dusun harus terendam banjir yang ketinggian airnya mencapai 2-3 meter. Mereka harus kehilangan harta benda mereka di rumah berbagai perabotan dan barang berharga hilang, hewan ternak, domba, kambing, kerbau dan sapi turut terseret arus derasnya air sungai Cijangkelok hingga alat-alat transportasi mereka pun hanyut dan rusak parah. Belum cukup kerugian materi mereka pun harus merasakan trauma akibat banjir tersebut.
DiKecamatan Cibingbin sendiri daerah yang terkena banjir diantarnya Sukaharja, Ciangir, Cipondok, Dukuh Maja, Citenjo dan Cibingbin. Untuk memabantu meringankan korban-korban yang ada disana Rumah Yatim pun turut menurunkan timnya, dengan memberikan santunan kepada warga sekitar.
Bantuan berupa pakaian ada 568 Paket, kerudung 400pcs, Alat Tulis Sekolah 3 dus, buku 60 pak, seragam 75 pasang (SD,SMP dan SMA), Tas Sekolah 100pcs, Sembako 50 paket, Perlengkapan MCK 3 dus, dan perlengkapan bersih-bersih. Tak hanyak bantuan materi Tim Relawan Rumah Yatim pun membantu membersihkan rumah-rumah warga, jalanan umum baik itu jalan besar maupun gang, dan juga turut membersihkan selokan-selokan sekitar tempat kejadian.
Untuk bantuan kali ini Rumah Yatim lebih memilih daerah-daerah yang kurang tersentuh bantuan seperti di Sukaharja, Ciangir, Cipondok, Dukuh Maja, karena menurut Sani, Manajer Rumah Yatim Area Jawa Barat untuk Citenjo dan Cibingbin sendiri sudah banyak sekali yang memberikan bantuan sedangkan daerah-daerah yang disebut diatas itu masih kurang tersentuh, selain medan menuju ke tempat tersebut luar biasa sulit ditambah keberadaan desa yang kurang diketahui.
Saat meninjau ke Lokasi Tim Rumah Yatim merasa sangat prihatin karena warga yang kebanyakan adalah petani dan pedagang ini mengalami kerugian yang luar biasa. Berbagai kerusakan terjadi disana sini, tak hanya rumah-rumah yang hanyut, dan rusak jalanan umum pun cukup mengalami kerusakan.
“Kami bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat disana. Kita juga sangat bersyukur karena rasa syukur kita meningkat dengan melihat bahwa ada yg lebih membutuhkan dan lebih kurang di bandingkan kita.” Ujar Sani.
Senin, 30 Januari 2017
Bingkisan Berkah untuk Nenek Yeti
Tercatat ada 24 rumah rusak dan satu rumah hanyut akibat terjangan air bah, tim dengan sigap menyambangi daerah tersebut untuk membantu warga membersihkan rumah, jalan dan selokan dari reruntuhan, sampah dan lumpur paska terjangan air bah.
Selain itu tim memberikan bantuan berupa pakaian layak pakai, peralatan kebersihan, MCK, kerudung, peralatan sekolah dan seragam sekolah (SD, SMP dan SMA).
Tidak hanya itu, tim menyambangi pemilik rumah yang terbawa hanyut air bah. Pemilik rumah tersebut adalah seorang nenek dan 3 orang cucunya yang berstatus yatim, sekarang mereka tinggal di kediaman saudaranya yang tidak jauh dari desa Yeti. Sembari meneteskan air mata ia mengungkapkan kesedihannya karena rumah dan harta bendanya habis dikuras.
Nenek ini bernama Yeti (65), di umurnya yang sudah tidak muda lagi, ia harus mengurusi ketiga cucunya yang belum bisa hidup mandiri. Salah satu cucu Yeti bernama Adit (10) bercerita bahwa dirinya sudah tidak bersekolah karena neneknya tidak mampu membiayai Adit.
Ketika masih bisa sekolah pun kadang Adit merasa tidak percaya diri karena seragam yang ia miliki sudah lusuh dan sudah tidak muat dipakai Adit. "Adit masih pengen sekolah, tapi karena ema tidak bisa membiayai sekolah Adit, akhirnya Adit terpaksa berhenti sekolah. Lagian seragam Adit sudah dibawa hanyut banjir." Kata Adit
Dulu ketika Yeti bekerja sebagai serabutan, ia bisa membiayai Adit dan kedua kakaknya sekolah tapi karena usia Yeti yang semakin menua membuat Yeti tidak dapat bekerja secara maksimal. Untuk memenuhi kebutuhan ia dan ketiga cucunya, Yeti hanya mengharapkan kebaikan saudara dan tetangganya .
Untuk membantu meringankan duka Yeti dan ketiga cucunya, tim relawan Rumah Yatim memberikan bantuan berupa seragam sekolah untuk ketiga cucu Yeti, paket sembako, MCK, kerudung baru, perlengkapan sekolah, dan peralatan kebersihan. " Semoga bantuan ini dapat meringankan beban nenek Yeti dan ketiga cucunya. Kami akan berupaya agar Adit dan ketiga adiknya dapat kembali bersekolah." Kata Sani Ramdani salah satu tim relawan Rumah Yatim
"Terima kasih atas semua bantuannya, Alhamdulillah cucu-cucu nenek dapat seragam baru, semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda." Ungkap Yeti
Seragam Sekolah Baru untuk Anak-Anak di Desa Cipondoh
Aktifitas warga Desa Cipondoh Kecamatan Cibingbin kini mulai kembali normal, sekolah-sekolah pun sudah mulai melakukan kegiatan belajar mengajarnya. Namun tak sedikit dari siswa-siswanya masih menggunakan pakaian sealakadarnya diakibatkan banjir yang melanda desanya pada 22 Januari 2017 lalu.
Untuk itu Rumah Yatim pun datang mengunjungi desa tersebut dengan memberikan bantuan alat tulis sekolah dan seragam untuk anak sekolah. “kebetulan ini seragam dan alat sekolah belum sama sekali terpenuhi, maka insya Allah sesuai amanah dari Rumah Yatim kami akan langsung menyalurkannya langsung kepada mereka yang membutuhkan dengan sejujur-jujurnya.” Ujar Eni Kepala Desa Cipondoh.
.
Selain seragam Rumah Yatim pun memenuhi keperluan warga korban lainnya seperti sembako, alat kebersihan, alat MCK, baju layak pakai dan juga kerudung untuk warga korban lainnya. “kami ucapkan banyak terimaksih yang sedalam-dalamnya.” Lanjut Eni.
Menurut Eni Kepala Desa Cipondoh ada 50 Keluarga yang rumahnya terendam banjir, yang paling parah ada 38 diantaranya ada yang hanya terendam saja, namun sulit mengembalikan seperti semula, ada yang dapurnya runtuh, 6 rumah pondasinya hancur, dan 29 semuanya harta bendanya hanyut. Sebagai kepala desa Eni pun langsung cepat tanggap dan langsung meninjau kelokasi sekaligus mengerahkan aparat untuk membantu warga sekitar.
“mudah-mudahan ini yang pertama dan yang terakhir.” Harap Eni.
Minggu, 29 Januari 2017
Program Peduli Gempa Aceh, Masuki Tahap Akhir
Program bantuan gempa Aceh di Pidie Jaya, sejak awal Desember lalu hingga hari ini masih terus berlangsung. Bantuan didistribusikan demi membantu memulihkan kondisi masyarakat yang menjadi korban hingga tuntas pasca gempat.
Seperti yang diungkapkan pihak Rumah Yatim oleh Dewi Sulistiyowati, akan terus membantu Aceh hingga pasca gempa, termasuk memberikan bantuan perbaikan fisik dan psikis warganya.
“Aceh sudah menjadi rumah kami sendiri, kami terus membantu dengan program bantuan yang kami miliki, secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisinya,pada pasca gempa ini kami tetap bantu apalagi yang erat kaitannya dengan sasaran kami, pendidikan dan anak-anak,” ungkap Dewi.
Masa-masa pemulihan ini adalah masa transisi dari masa tanggap darurat ke masa tenang. Masyarakat setempat ingin pulih dan melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala. Mulai dari korban-korban yang selamat di pengungsian bertahap sudah meninggalkan tenda-tenda pengungsian dan sebagian masih bertahan.
Aktivitas keseharian mereka mayoritas masih dilakukan di pengungsian, termasuk yang menjadi perhatian Rumah Yatim, pendidikan dan anak-anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Cabang Aceh Maman Suryaman dana bantuan yang terhimpun sejumlah Rp 160 juta, dialokasikan ke 5 Program, yaitu perbaikan pembangunan TPA/fasilitas publik pendidikan dan ibadah, bantuan peduli sesama, bantuan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), bantuan fasilitas sandang, dan trauma healing.
Dari bantuan tahap ketiga ini, ia menerangkan, proses renovasi TPA di 4 titik yang disalurkan langsung ke lokasi yang rusak akibat bencana sesuai prosedur arahan dari pusat. Adapun 4 titik tersebut berada di Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, tersebar di beberapa desa.
Pertama, sudah direnovasi sebuah TPA berukuran 5 m x 5 m, dengan model panggung yang terbuat dari kayu seperti umumnya bangunan tradisional Aceh. Titik kedua dan ketiga, juga sudah selesai direnovasi dalam waktu yang bersamaan sekitar beberapa minggu yang lalu. Dan tempat terakhir, yang dilakukan baru-baru ini diharapkan Rabu besok dapat segera selesai.
Rencananya, Minggu (29/01) Rumah Yatim akan mengadakan syukuran dan pengajian sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih mereka selama siaga membantu di peristiwa ini. “Insya Allah akan kami adakah di salah satu titik, mengingat juga sudah banyak korban selamat yang tak lagi dipengungsian, mereka pindah ke tempat tinggalnya dulu,”ucapnya.
Kemudian, dalam syukuran ini juga akan diadakan trauma healing, salah satunya dengan menghadirkan pendongeng untuk menghibur anak-anak. Maman mengatakan, untuk mendukung trauma healing, Rumah Yatim menyediakan SDM yang ahli di bidangnya.
Trauma healing ini bertujuan memulihkan kondisi psikis anak-anak korban bencana dari rasa cemas, takut, dan kehilangan. Agar mereka kembali menikmati masa-masa indahnya sebagai anak-anak seperti biasanya. Materi yang disampaikan rencananya diisi muatan Islami dan yang mengedukasi.
Di samping itu terdapat bantuan sandang, dan fasilitas belajar dan beribadah untuk anak-anak dan warga sekitarnya. Dan bantuan dari donatur berupa beberapa jenis logistik dan sandang pun telah disalurkan.
Beberapa minggu sebelumnya, secara bertahap bantuan peduli sesama sejumlah Rp 25.000.000 diterima oleh 500 KK di kunjungan pertama. Sebanyak 120 KK lainnya menerima bantuan MCK dari Rumah Yatim dengan total Rp 7.500.000. Maman dan timnya bersyukur dapat menjalani proses pendistribusian ini dengan sukses sampai kepada sasarannya.
Harapan mereka berhasil terwujud dengan mengawal berbagai program bantuan hingga tuntas di masa-masa pemulihan. Mulai dari persiapan, perjalanan distribusi, dan semua yang telah dialami seakan terbayar sudah dengan rasa bahagia Rumah Yatim peduli bagi Aceh.
Semoga bantuan yang mereka terima menjadi berkah dan memberikan manfaat kepada mereka untuk terus semangat menjalani hidup yang lebih baik.
Rumah Yatim Sigap Bantu Korban Banjir Bandang Cibingbin Kuningan
Indonesia kembali berduka, setelah kejadian banjir yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia dan terakhir disusul bencana banjir bandang Bima NTB. Kini Indonesia dibuat duka dengan bencana banjir bandang yang menimpa delapan desa di kecamatan Cibingbin kabupaten Kuningan Jawa Barat.
Pada Senin sore (23/01), akibat kejadian ini, ribuan rumah terendam, puluhan rumah rusak, beberapa rumah, ribuan hewan ternak dan harta benda lainnya dibawa hanyut air bah akibat meluapnya sungai Cijangkelok
Malam harinya, Rumah Yatim langsung menurunkan delapan orang tim relawan dari Bandung menuju lokasi bencana, selasa (24/01) Pukul 05:00 WIB tim relawan mengunjungi desa Citenjo.
Sebelum menjalankan aksinya, tim melakukan koordinasi dengan aparat setempat dan para relawan lainnya, setelah itu tim langsung mengeluarkan peralatan kebersihan dan membantu warga membersihkan jalan dan rumah warga.
Aksi tim relawan Rumah Yatim dilanjutkan dengan menyalurkan ribuan bantuan peralatan MCK, sembako, pakaian layak pakai, kerudung, peralatan sekolah, seragam dan buku.
Menutrut Sani Ramdani salah satu tim relawan mengatakan, banjir bandang Cibingbin terjadi pada seni (23/01) pukul 16:00 WIB, air mulai surut pada selasa dini hari (24/01) pukul 01:30 WIB, ribuan warga telah mengungsi di tenda pengungsian yang telah disediakan.
“semoga apa yang kami lakukan ini dapat meringankan duka mereka, Insya Allah kami akan melanjutkan perjalanan menuju desa lainnya untuk melakukan aksi yang serupa.” Kata Sani Ramdani
Menurut informasi yang didapat sebelumnya, desa Citenjo merupakan salah satu desa teparah akibat bencana ini. Sebanyak 1.150 rumah terendam, 15 rumah mengalami kerusakan, 50 ekor kambing tebawa hanyut, dilansir desa ini mengalami kerugian sekitar 1,5 milyar.
Hikmah Dibalik Pertemuan Rumah Yatim dengan Hafidzah Suriah
Gaziantep, masih dalam upaya merealisasikan misi besar Rumah Yatim hadir di Turki untuk meringankan duka pengungsi Suriah. Kali ini Rumah Yatim menyambangi rumah kontrakan salah satu pengungsi Suriah.
Rumah tersebut dihuni seorang ibu bernama Fathimah (31), ia adalah seorang janda yang mempunyai lima anak diantaranya Ilaf, Iman, Aminah dan si kembar Muhammad dan Khadjah.
“Masya Allah, keluarga umi Fathimah adalah keluarga hafidz, bu Fathimah seorang hafidzah, anak pertamanya Ilaf sudah hafal 12 juz, iman anak keduanya sudah hafal 7 juz, aminah hafal 5 juz dan yang terakhir si kembar sudah hafal 1 juz.” Kata Abdurrahman
Mereka adalah pengungsi asal Aleppo, suami Fathimah sudah meninggal karena perang yang menimpa Negara mereka , rumah mereka sudah hancur karena ledakan bom saat itu. Sekarang, Fathimah menyewa sebuah rumah kecil di wilayah Gaziantep, untuk memenuhi biaya hidup dan sekolah anak-anaknya, terpaksa ia bekerja sebagai penjahit pakaian, membuat border dan aksesoris.
Untuk membantu meringankan beban Fathimah, tim relawan Rumah Yatim memberikan bantuan berupa peralatan sekolah dan bahan makanan. “Semoga apa yang kami berikan ini dapat bermanfaat untuk umi Fathimah dan menjadi salah satu penyemangat anak-anak dalam menghafal Al-Qur’annya.” Ungkap Abdurrahman kepada Fathimah dan kelima anaknya.
“Terima kasih kepada Rumah Yatim dan bangsa Indonesia yang telah membuktikan bahwa muslim itu bersaudara dimanapun berada. Ketika muslim yang satu dalam kesusahan, maka yang lain bisa merasakannya, semoga Allah meringankan beban kalian dunia dan akhirat.” Pungkas Fathimah
Minggu, 22 Januari 2017
Uluran Kasih Sayang untuk Ghisya
Di saat teman-teman seusianya bisa menikmati masa kanak-kanak bebas tanpa beban. Tapi, tidak demikian dengan Ghisya, siswa kelas 4 SD Muhammadiyah Teluk Betung Utara, Lampung. Penyakit kelainan darah yang telah dideritanya sejak usia 2 tahun membuatnya harus bolak-balik cuci darah jika kondisinya sudah tampak pucat dan terasa sakit di tubuhnya.
Kepala Asrama Tanjung Karang Welli mengatakan, sepintas, Ghisya seperti baik-baik saja, sehat seperti anak lainnya. Namun, ketika diperhatikan, kulitnya lebih pucat dibandingkan teman-temannya.
“Kulitnya pucat, kalau diamati lagi, seperti kurang cahaya di wajahnya,” ujarnya. Menurut informasi yang diperoleh dari keluarganya, Ghisya didiagnosis kelainan darah ketika ia menderita DBD ketika itu. DBD menyerang, dan dokter mendapati sesuatu yang berbeda dalam mengobatinya.
Terbebas dari DBD bertahun lalu, kini Ghisya terus berjuang melawan penyakitnya ini. Kelainan darah ini mengakibatkan tubuhnya rentan akan kelelahan dan gerak tubuh yang berlebihan. Welli menambahkan, Ghisya tidak boleh terlalu banyak bergerak, terutama gerakan berat dan sebisa mungkin harus menghindari risiko cedera, seperti jatuh.
Dari organ gerak yang mudah lelah, tulang-tulang di tubuh Ghisya rupanya juga rentan mengalami kekeroposan. Dilanda keadaan fisik yang begitu lemah, tak menghalangi Ghisya belajar, dan berinteraksi dengan teman-teman di sekolah. Yang mengetahui kondisi Ghisya sebenarnya hanya para guru saja.
“Teman-temannya hanya tahu Ghisya sakit, jadi jika Ghisya tidak masuk sekolah dalam waktu yang lama, mereka sudah tahu kalau Ghisya sedang berobat,” ujarnya.
Sebagai anak satu-satunya, Ghisya tinggal bersama ibunya karena sang ayah telah lama meninggal. Sebagai orangtua tunggal, sang ibu bekerja keras sebagai buruh serabutan, seperti cuci, setrika atau memasak. Rupiah demi rupiah yang terkumpul ia kumpulkan, sebisa ia bagi sampai cukup memenuhi semua kebutuhan sehari-hari.
Tinggal di sebuah kontrakan mungil berukuran 2x3 meter dan tagihan tiap bulannya, dan sederet kebutuhan sehari-hari, tak tercukupi dengan penghasilan yang minim. Mereka berdua dibantu oleh seorang kakak ibunya atau bibinya Ghisya yang menjadi tenaga honorer di sebuah lembaga pendidikan. Bukan membantu keuangan saja, tetapi juga tenaga karena san ibu pun tidak boleh terlalu lelah bekerja.
“Jadi selain Ghisya, sang ibu pun punya kondisi kesehatan yang lemah, karena pernah kecelakaan terbentur batu yang mencederai kepalanya. Luka dalam ini mengakibatkan ibunya Ghisya sering sakit kepala kalau kelelahan sehingga tidak boleh bekerja terlalu berat,” tuturnya prihatin.
Sebelumya kecelakaan, ibu Ghisya pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah lembaga sosial bersama sang suami. Setelah menjadi orangtua tunggal, rekan-rekan sejawatnya membantu dengan menyewakan kontrakan tersebut.
Sebelum itu, Ghisya memang sudah pernah mendapat perawatan di rumah sakit dengan BPJS dan bantuan dari pemerintah setempat. Akan tetapi, tidak cukup sampai di situ, perawatan setelahnya masih terus berjalan, dan tidak semua dapat ditanggung oleh kedua fasilitas tersebut.
Dengan kenyataan seperti itu, keuangan keluarga sangat minim dan tak mencukupi. Biaya sekali cuci darah mencapai ratusan ribu rupiah. Belum lagi ditambah ongkos dan obat-obatan penunjang yang harus rutin dikonsumsi agar kondisi Ghisya tidak drop.
Selain dihimpit minimnya keadaan ekonomi, menurut informasi yang Rumah Yatim peroleh, keluarga Ghisya sedang terhimpit persoalan utang. Sang ibu harus menyicil kewajibannya membayar utang setiap memiliki uang. Uang pinjaman tersebut kebanyakan ia gunakan untuk menutupi biaya pengobatan Ghisya. Bahkan demi Ghisya, ia terpaksa meminjam uang ke rentenir.
Di tengah-tengah persoalan ini, sekitar 3 bulan yang lalu ia mengajukan proposal bantuan kepada Rumah Yatim untuk biaya pendidikan Ghisya. Setelah diproses, Rumah Yatim menyetujui termasuk mengajak Ghisya di asrama. Dengan begitu semua biaya hidup, pendidikan dan lainnya sudah menjadi tanggung jawab asrama.
“Pihak kami sudah menyetujui, sesuai persyaratan dan sudah melalui proses, tapi pihak orangtua menolak. Ternyata baru kami ketahui kondisi kesehatan Ghisya sebenarnya. Hal ini penting, untuk orangtua atau pihak keluarga wajib memberitahu kondisi anaknya agar kami dapat mengoptimalkan bantuan sesuai kondisi,” jelasnya.
Mengetahui kebenaran ini, Welli bersama pihak manajemen berencana akan tetap membantu Ghisya beserta keluarga dengan beberapa cara. Hingga tulisan ini dibuat, ia mengungkapkan tengah memproses segala keperluan untuk membantu Ghisya.
“Kami sudah bersilaturahim dengan keluarganya dan survey kondisi lingkungan tinggalnya, kami juga sedang mengumpulkan persyaratan lain secara administrasi, misalnya keterangan dari dokter,” imbuhnya.
Rumah Yatim akan membantu Ghisya dan keluarga melalui beberapa cara, yaitu program santunan biaya hidup, partisipasi donatur, atau keringanan biaya pengobatan. Partisipasi donatur dilakukan dengan sharing melalui jaringan komunikasi dengan donatur. Ia berharap dari jaringan ini dapat berbagi informasi tentang rujukan pengobatan untuk kesehatan Ghisya atau program khusus kesehatan ibu dan anak.
Walau Ghisya tidak tinggal di asrama, Welli mengatakan akan tetap terus bersilaturahim secara rutin keadaan Ghisya dan keluarga. Mulai meringankan kebutuhan sehari-harinya seperti bantuan sembako ke rumahnya. Silaturahim bertujuan agar memberikan suntikan semangat hidup, dukungan moral dan motivasi bagi keluarga mereka.
Keluarga Ghisya sangat bersyukur dapat dipertemukan Allah kepada Rumah Yatim. Kini baginya tak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan keluarga kecil mereka, khususnya Gishya. Seperti ia ungkapkan kembali pada Welli, pertama ia ingin Ghisya cepat sembuh dari penyakitnya, kedua ingin segera melunasi utang-utangnya sehingga hidupnya tak lagi terbebani dan tak menjadi beban orang lain.
Gishya dan keluarg sedang menantikan uluran kasih sayang dan cinta dari donatur dimanapun berada yang tulus dan ikhlas menolong mereka. Masa depan cerah menanti Gishya secarah senyum yang terbit di wajahnya.
Kepala Asrama Tanjung Karang Welli mengatakan, sepintas, Ghisya seperti baik-baik saja, sehat seperti anak lainnya. Namun, ketika diperhatikan, kulitnya lebih pucat dibandingkan teman-temannya.
“Kulitnya pucat, kalau diamati lagi, seperti kurang cahaya di wajahnya,” ujarnya. Menurut informasi yang diperoleh dari keluarganya, Ghisya didiagnosis kelainan darah ketika ia menderita DBD ketika itu. DBD menyerang, dan dokter mendapati sesuatu yang berbeda dalam mengobatinya.
Terbebas dari DBD bertahun lalu, kini Ghisya terus berjuang melawan penyakitnya ini. Kelainan darah ini mengakibatkan tubuhnya rentan akan kelelahan dan gerak tubuh yang berlebihan. Welli menambahkan, Ghisya tidak boleh terlalu banyak bergerak, terutama gerakan berat dan sebisa mungkin harus menghindari risiko cedera, seperti jatuh.
Dari organ gerak yang mudah lelah, tulang-tulang di tubuh Ghisya rupanya juga rentan mengalami kekeroposan. Dilanda keadaan fisik yang begitu lemah, tak menghalangi Ghisya belajar, dan berinteraksi dengan teman-teman di sekolah. Yang mengetahui kondisi Ghisya sebenarnya hanya para guru saja.
“Teman-temannya hanya tahu Ghisya sakit, jadi jika Ghisya tidak masuk sekolah dalam waktu yang lama, mereka sudah tahu kalau Ghisya sedang berobat,” ujarnya.
Sebagai anak satu-satunya, Ghisya tinggal bersama ibunya karena sang ayah telah lama meninggal. Sebagai orangtua tunggal, sang ibu bekerja keras sebagai buruh serabutan, seperti cuci, setrika atau memasak. Rupiah demi rupiah yang terkumpul ia kumpulkan, sebisa ia bagi sampai cukup memenuhi semua kebutuhan sehari-hari.
Tinggal di sebuah kontrakan mungil berukuran 2x3 meter dan tagihan tiap bulannya, dan sederet kebutuhan sehari-hari, tak tercukupi dengan penghasilan yang minim. Mereka berdua dibantu oleh seorang kakak ibunya atau bibinya Ghisya yang menjadi tenaga honorer di sebuah lembaga pendidikan. Bukan membantu keuangan saja, tetapi juga tenaga karena san ibu pun tidak boleh terlalu lelah bekerja.
“Jadi selain Ghisya, sang ibu pun punya kondisi kesehatan yang lemah, karena pernah kecelakaan terbentur batu yang mencederai kepalanya. Luka dalam ini mengakibatkan ibunya Ghisya sering sakit kepala kalau kelelahan sehingga tidak boleh bekerja terlalu berat,” tuturnya prihatin.
Sebelumya kecelakaan, ibu Ghisya pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah lembaga sosial bersama sang suami. Setelah menjadi orangtua tunggal, rekan-rekan sejawatnya membantu dengan menyewakan kontrakan tersebut.
Sebelum itu, Ghisya memang sudah pernah mendapat perawatan di rumah sakit dengan BPJS dan bantuan dari pemerintah setempat. Akan tetapi, tidak cukup sampai di situ, perawatan setelahnya masih terus berjalan, dan tidak semua dapat ditanggung oleh kedua fasilitas tersebut.
Dengan kenyataan seperti itu, keuangan keluarga sangat minim dan tak mencukupi. Biaya sekali cuci darah mencapai ratusan ribu rupiah. Belum lagi ditambah ongkos dan obat-obatan penunjang yang harus rutin dikonsumsi agar kondisi Ghisya tidak drop.
Selain dihimpit minimnya keadaan ekonomi, menurut informasi yang Rumah Yatim peroleh, keluarga Ghisya sedang terhimpit persoalan utang. Sang ibu harus menyicil kewajibannya membayar utang setiap memiliki uang. Uang pinjaman tersebut kebanyakan ia gunakan untuk menutupi biaya pengobatan Ghisya. Bahkan demi Ghisya, ia terpaksa meminjam uang ke rentenir.
Di tengah-tengah persoalan ini, sekitar 3 bulan yang lalu ia mengajukan proposal bantuan kepada Rumah Yatim untuk biaya pendidikan Ghisya. Setelah diproses, Rumah Yatim menyetujui termasuk mengajak Ghisya di asrama. Dengan begitu semua biaya hidup, pendidikan dan lainnya sudah menjadi tanggung jawab asrama.
“Pihak kami sudah menyetujui, sesuai persyaratan dan sudah melalui proses, tapi pihak orangtua menolak. Ternyata baru kami ketahui kondisi kesehatan Ghisya sebenarnya. Hal ini penting, untuk orangtua atau pihak keluarga wajib memberitahu kondisi anaknya agar kami dapat mengoptimalkan bantuan sesuai kondisi,” jelasnya.
Mengetahui kebenaran ini, Welli bersama pihak manajemen berencana akan tetap membantu Ghisya beserta keluarga dengan beberapa cara. Hingga tulisan ini dibuat, ia mengungkapkan tengah memproses segala keperluan untuk membantu Ghisya.
“Kami sudah bersilaturahim dengan keluarganya dan survey kondisi lingkungan tinggalnya, kami juga sedang mengumpulkan persyaratan lain secara administrasi, misalnya keterangan dari dokter,” imbuhnya.
Rumah Yatim akan membantu Ghisya dan keluarga melalui beberapa cara, yaitu program santunan biaya hidup, partisipasi donatur, atau keringanan biaya pengobatan. Partisipasi donatur dilakukan dengan sharing melalui jaringan komunikasi dengan donatur. Ia berharap dari jaringan ini dapat berbagi informasi tentang rujukan pengobatan untuk kesehatan Ghisya atau program khusus kesehatan ibu dan anak.
Walau Ghisya tidak tinggal di asrama, Welli mengatakan akan tetap terus bersilaturahim secara rutin keadaan Ghisya dan keluarga. Mulai meringankan kebutuhan sehari-harinya seperti bantuan sembako ke rumahnya. Silaturahim bertujuan agar memberikan suntikan semangat hidup, dukungan moral dan motivasi bagi keluarga mereka.
Keluarga Ghisya sangat bersyukur dapat dipertemukan Allah kepada Rumah Yatim. Kini baginya tak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan keluarga kecil mereka, khususnya Gishya. Seperti ia ungkapkan kembali pada Welli, pertama ia ingin Ghisya cepat sembuh dari penyakitnya, kedua ingin segera melunasi utang-utangnya sehingga hidupnya tak lagi terbebani dan tak menjadi beban orang lain.
Gishya dan keluarg sedang menantikan uluran kasih sayang dan cinta dari donatur dimanapun berada yang tulus dan ikhlas menolong mereka. Masa depan cerah menanti Gishya secarah senyum yang terbit di wajahnya.
Satu Kontainer Bahan Makanan untuk Ringankan Penderitaan Anak Yatim Suriah
Pukul 12:00 waktu Sanli Urfa, tim relawan Rumah Yatim telah
bersiap siaga di kamp pengungsian Suriah untuk menyalurkan satu kontainer bahan
makanan yang sudah di pak sebelumnya.
Kedatangan tim disambut gembira ribuan anak Suriah, sebanyak
satu kontainer bahan makanan siap disalurkan kepada para pengungsian Suriah.
Abdurrahman bersama tim relawan dan mitra dari Sanli Urfa
berkeliling menyambangi kamp pengungsian untuk membagikan bantuan sembari
melihat langsung kondisi kamp
pengungsian. Sekitar 5 ribu anak dari 16 ribu pengungsi Suriah mengungsi di
kamp pengungsian ini, rata-rata mereka berusia 8 sampai 12 tahun, kebanyakan dari mereka sudah berstatus yatim
bahkan yatim piatu.
Sembari membagikan bantuan, tim mencoba menjalin komunikasi
dengan anak-anak Suriah. Mereka adalah anak yang ceria, aktif dan komunikatif,
mereka menanyakan dari mana tim berasal.
"Ketika kami mengatakan dari mana asal kami, mereka
mengetahuinya tetapi mereka tidak mengetahui dimana Indonesia berada. Kami pun
memberi tahu mereka bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas
penduduk muslim yang sangat peduli
terhadap masalah kemanusiaan terutama pada masalah yang dihadapi muslim di
dunia." Ungkap Abdurrahman, minggu (22/01)
Penyaluran santunan yang digelar dari hari sabtu (21/01) dan
Minggu (22/01) ini berlangsung dengan sukses dan lancar. Sebanyak 5 ribu anak
sudah menerima bantuan berisi bahan makanan dari Rumah Yatim. Para pengungsi
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Rumah Yatim atas kepedulian
dan kebaikannya.
"Alhamdulillah akhirnya kami sudah menyalurkan bantuan
untuk pengungsi Suriah khususnya untuk anak-anak disana. Semoga apa yang kami
berikan ini dapat membantu meringankan penderitaan mereka. Terima kasih kepada
mitra Rumah Yatim dari Sanli Urfa dan para donatur karena telah berkontribusi
dalam kegiatan ini." Ujar Abdurrahman
Tim relawan akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan
untuk merealisasikan misi besarnya. "Kami akan melanjutkan perjalanan
mencari tempat yang nantinya akan dijadikan asrama untuk anak yatim
Suriah." Ungkap Abdurrahman
Ada cerita pilu ketika tim berkeliling kamp pengungsian, ada
seorang anak bernama Abdullah, ia berusia kira-kira 3 tahun. Ia mengikuti tim
relawan berkeliling, akhirnya tim pun membawa anak tersebut.
Tapi ketika tim beranjak untuk meninggalkan kamp pengungsian
karena ada tugas lain dan tidak bisa membawa anak malang tersebut akhirnya tim
terpaksa menitipkannya ke pengurus kamp pengungsian. Anak tersebut menangis
karena tidak mau lepas dari pangkuan Abdurrahman.
"Anak ini nangis
karena tidak mau dilepas, selama kita
berkeliling kamp pengungsian untuk menyalurkan bantuan, anak ini selalu
mengikuti kami, selama anak tersebut
dibawa kami, tidak ada seorang pun yang mencari dia. Ternyata setelah
ditelusuri, orang tuanya sudah tiada, anak ini hidup sebatang kara di usia yang
sangat belia." Kata Abdurrahman
Copyright ©
Rumah Yatim | Powered by Blogger
Design by Flythemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com





















