Minggu, 27 November 2016
SD Elfitra menggondol 5 Piala di Muslim Fest 2016
“saya yakin anak-anak pasti menang.” Kata Feri, pembimbing lomba Dacil dan tahfidz yang diselenggarakan UKM Lembaga Dakwah Mesjid UIN SGD Bandung dalam acara Muslim Fest 2016.
Keyakinan tersebut berbuah hasil, tepat pada pengumuman hasil lomba (23/11) Tim Dacil SD Elfitra menggondol piala sebanyak 3 sekaligus, tak hanya Ranaya Salma Diega yang mendapatkan juara 1 lomba Dacil namun ke 2 peserta lainnya seperti Siti Nurul Aeni dan Kholid Abdan Syakuro pun mendapatkan piala yakni juara dua dan tiga dan 2 piala untuk lomba tahfidz yang dimenangkan oleh Hafidzin Ali juara 1 dan Khoiriyyah Syifa Nur Kholisah untuk juara 2.
Hal tersebut pun diungkapkan Ayi Karmilah, Wakil Kepala sekolah bagian Kurikulum dalam akun Facebooknya.
“Alhamdulillah jadi juara 1,2,dan 3 lomba dacil serta lomba tanfidz juara 1 dan 2 di Festival muslim Uin Sunan Gunung Djati Se-Bandung Raya,selamat ya anak anak semoga selalu berprestasi dan yang paling penting akhlak islamnya selalu dijaga. Jadilah generasi - generasi cerdas, kreatif, berbakat dan Islami yang selalu jaga hati, lisan dan perbuatan.” Paparnya.
Menurut beberapa sumber kompetisi merupakan hal yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak Membangun semangat untuk berhasil, Mengembangkan perilaku yang baik tentang menang-kalah, Mengembangkan keterampilan koordinasi, Berpikir kritis, memahami kekuatan dan kelemahannya dan tentu untuk mengembangkan potensinya.
Melihat manfaat tersebut SD Elfitra pun senantiasa mengikutsertakan anak didiknya untuk mengikuti perlombaan baik itu tingkat kecamatan sampai tingkat nasional seperti olimpiade sains dan matematik yang digelar kemarin dengan kemenangan atas SD Elfitra dengan medali perunggu untuk juara 3 dan sertifikat kemenangan juara harapan.
Meski begitu SD Elfitra tidak pernah memaksakan anak didiknya untuk berkompetisi karena penting bagi pihak sekolah mengetahui kejiwaan anak dan passion si anak itu sendiri.
“kami mengikutsertakan anak didik kami sesuai passion mereka, sehingga saat mereka menjalani berbagai latihan mereka tidak merasa terbebani, karena mereka suka dan menikmatinya, seperti pada olimpiade kemarin, tak terdengar keluhan dari anak-anak, mereka begitu bersemangat dan menikmati setiap session pembelajaran khusus mereka.” Ujar Erly Savitri, Kepala Sekolah SD Elfitra.
Amanah untuk Gampong Kuta Karang
Rumah Yatim cabang Aceh salurkan 25 paket sembako kepada 30 mustahik gampong Kuta Karang kecamatan Darul Imarah,Kabupaten Aceh Besar. Santunan diberikan oleh Amir kepala asrama RY Aceh dan tim relawan Rumah Yatim
Dikarenakan gampong Kuta Karang tidak mempunyai keuci (lurah) maka penyaluran santunan ini diterima oleh Alawiyah selaku ketua gampong. Penyaluran digelar didepan kediaman Alawiyah, warga yang hadir diberi kupon antrian agar penyaluran berlangsung lancar.
Menurut Alawiyah, Harga sembako yang semakin mahal membuat masyarakat gampong Kuta Karang tidak mampu membeli barang tersebut dengan jumlah banyak. “penghasilan warga gampong hanya cukup membeli kebutuhan untuk satu hari saja. Alhamdulillah Rumah Yatim hadir memberi sembako berupa 5 kg beras, gula dan mie instan, sembako ini akan sangat bermanfaat untuk warga gampong Kuta Karang.” Ucapnya, Rabu (23/11)
Mustahik gampong Kuta Karang rata-rata berprofesi sebagai buruh tani dan serabutan, kondisi gampong yang amat sederhana semakin menunjukan bahwa mustahik tersebut memang layak mendapat santunan.
Menurut Amir, ketika ia dan tim relawan Rumah Yatim hadir di gampong tersebut, mereka disambut hangat warga gampong. “saat mobil yang kami tumpangi berhenti di gampong Kuta Karang, anak-anak gampong langsung mengerumini mobil Rumah Yatim dan ketika kami turun, kami langsung disambut hangat warga.” Kata Amir
Ketika Amir dan tim relawan sampai ditempat penyaluran, beberapa mustahik mempertanyakan alasan Rumah Yatim hadir ke gampong tersebut, dengan sigap Amir pun menjawab bahwa alasan Rumah Yatim hadir ke gampong tersebut karena ingin menyampaikan sebuah amanat dari para donatur untuk mustahik gampong Kuta Karang.
“terima kasih atas kepedulian Rumah Yatim dan para donatur, semoga penyaluran santunan ini terus berlangsung setiap bulannya.” Ungkap Alawiyah
Pekan lalu, Rumah Yatim cabang Aceh pun menyalurkan santunan sembako kepada 30 mustahik baru di gampong geuceu komplek, santunan langsung diterima keuceu gampong tersebut.
Mustahik Baleendah Dapat Santunan dari Rumah Yatim
Sebanyak 100 mustahik wilayah Baleendah mendapatkan santunan paket sembako dari Rumah Yatim area Jawa Barat. Santunan tersebut diberikan kepada mustahik yang berstatus janda, lansia dan fakir miskin. Dalam kesehariannya, para mustahik bekerja sebagai buruh cuci, serabutan, dan pedagang kecil.
Menurut Budi yang merupakan salah satu tim relawan Rumah Yatim mengatakan bahwa santunan tersebut digelar di dua wilayah dengan waktu yang berbeda. Untuk santunan pertama digelar di Yayasan Al Anhar As Sidiq kelurahan Mulyasari pukul 09:00-11:00 WIB selanjutnya santunan digelar di MDT/PAUD Al Fikri Baitul Ariefkelurahan Manggahan pukul 11:30-14:00 WIB.
Setiap mustahik mendapat nomor antrian agar santunan dapat berlangsung dengan lancar.
Heni Maryani (39), salah satu mustahik kelurahan Mulyasari, mengaku bersyukur atas pemberian paket sembako yang terdiri dari beras, mie instan dan gula pasir.
Bantuan ini sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. “Semoga Allah membalas semua kebaikan Rumah Yatim dan para donatur.” Ungkap Heni, rabu (23/11)
“Alhamdulillah amanah ini telah tersampaikan ke yang berhak menerimanya, semoga amanah ini dapat menjadi keberkahan bagi pemberi dan penerima.” Ungkap Budi
Tujuan dari pemberian paket sembako dan santunan uang ini untuk menyalurkan zakat, infak dan sadaqoh dari para donatur yang disampaikan kepada Rumah Yatim kemudian disalurkan kepada para mustahik.
Berkah Peduli untuk Sukitem
Sukitem seorang nenek yang diperkirakan berusia 100 tahundisambangi oleh tim Rumah Yatim Lampung, Selasa (22/11). Nenek yang tinggal di Desa Semanas, Bakauheni, Lampung Selatan ini tinggal sebatang kara tanpa anak cucu atau keluarga lainnya. Sukitem ialah salah satu dari sekian banyak mustahiq yang sangat layak dibantu diringankan dalam menopang hidup sehari-hari.
Ketika Kepala Cabang Lampung Herman dan Kepala Asrama Hendy meninjau, janda tua ini mendiami sebuah rumah sempit berukuran 4m x 6m. Tampak luar kondisi bangunan tidak terawat dengan dinding yang terbuat dari bilik menganga di beberapa bagian. Atap dari genting mulai bergeser dan sebagian tidak menutup bagian atas.
Melangkah ke bagian dalam rumah, kondisinya jauh lebih menyedihkan membuat tempat tinggal nenek yang sudah renta ini jauh dari kata pantas untuk disebut rumah tinggal. Perasaan sedih merayap manakala apa yang nampak begitu mengenaskan.
Nyaris seperti (maaf) kandang hewan, bau apak udara lembab meruap menusuk hidung. Pencahayaan alami yang minim hanya yang menembus dari celah-celah bilik, tanpa ventilasi. Cuma lubang-lubang di atas dinding saja jadi laju keluar masuknya udara setiap harinya.
Hendy mengakui cukup mengalami kesulitan ketika ia ingin bertemu Sukitem. Ia sempat menolak bertemu dan enggan keluar rumah.
Namun, seorang tetangga Sukitem bersedia membantunya untuk membujuk Sukitem keluar rumah. beserta rt setempat yang menunjukkan jalan, akhirnya Sukitem besedia diajak berbicara. Faktor usia dan lamanya kesendirian membuatnya tidak menyadari dengan kehadiran orang sekitar yang mengajaknya berkomunikasi.
“Pendengarannya masih baik memang, penglihatan juga masih baik, Cuma kalau bicara, kadang nyambung, kadang tidak, fisiknya agak lemah, waktu saya kesana ia sulit berdiri jadi harus dipapah atau pegangan,” ucap Hendy.
Ibu dari 7 orang anak dan nenek 20 cucu ini mengaku anak-anaknya tinggal sudah jauh berpisah dengan keluarganya masing-masing. Hingga kini tak satu pun anaknya datang menjenguk dan memperhatikan keadaannya. Hanya belas kasih dari tetangga saja yang peduli datang padanya, dengan memberikan makanan.
Seperti salah satu tetangganya yang mendampinginya saat berbincang-bincang. Santunan berupa uang ini diserahkan langsung pada Sukitem yang disaksikan rt setempat. Mengenai penggunaannya, uang tersebut akan dibelanjakan kebutuhan kesehariannya oleh tetangga yang selama ini membantunya.
Namun, sempat Hendy mendapat kabar bahwa salah satu anaknya yang kala itu menjenguk, ingin mengajak Sukitem turut serta bersamanya, tetapi ditolaknya.
Keadaan yang memprihatinkan ini sontak membuat tim Rumah Yatim sedih dan terharu. Hendy mengungkapkan sangat mengambil hikmah dari apa yang disaksikannya. “Ya, ini menjadi pengingat bagi saya pribadi bukan hanya peduli pada mereka yang kekurangan tetapi bagaimana saya berbakti kepada orangtua, ini akan saya jadikan pengalaman berharga yang akan saya bagi kepada anak-anak asuh,” katanya simpatik.
Sebagai mustahiq, nama Sukitem diperoleh dari usulan dari warga di Bakauheni. Kebetulan, Rumah Yatim yang menyasar para calon mustahiq di kawasan selatan Lampung ini kemudian menghimpun data dan segera mensurvey. Untuk selanjutnya, Hendy berniat mengusulkan kembali Sukitem ke pihak manajemen untuk kembali diberikan bantuan.
Sukitem melalui tetangganya menyampaikan rasa terima kasih dan syukurnya ada pihak lain yang masih memperhatikannya walau bukan keluarganya.
Rumah Yatim Cabang Aceh Sambangi Ibu Tunggal Empat Anak
Sepeninggal suaminya tujuh tahun lalu, kehidupan Fatimah Juruh (40) berubah drastis. Sebelumnya ia hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja kini ia harus menjadi orang tua tunggal, ia harus banting tulang sendiri untuk menghidupi keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Kadang ia rela berpuasa supaya keempat anaknya bisa makan, kadang pula mengajak keempat anaknya berpuasa jika penghasilannya sebagai buruh tani tidak cukup untuk membeli beras.
“penghasilan sehari-hari saya hanya bergantung dari petani yang meminta bantuan saya, saya sering berpuasa kalau upah hasil bantu-bantu hanya cukup untuk makan anak-anak saja. Kadang saya menyuruh mereka berpuasa jika seharian tidak ada petani yang meminta bantuan saya.” Kata Fatimah ketika ngobrol bareng Salma ibu asrama Rumah Yatim Aceh
Fatimah merupakan warga gampong Kuta Karang ,kecamatan Darul Imarah,Kabupaten Aceh Besar. Bersama keempat anaknya ia menempati gubuk kecil hasil peninggalan suaminya. Menurut Awaliyah (60) selaku sesepuh gampong tersebut, kehidupan Fatimah memang serba kurang, “untuk makan saja susah, kadang salah satu warga kami memberikan sedikit makanan untuk mereka.” Ujarnya
Alawiyah mengatakan bahwa warganya tidak selalu memberikan makanan untuk keluarga Fatimah dikarenakan kondisi warganya sama-sama kurang. “warga gampong Kuta Karang rata-rata bekerja sebagai buruh tani, penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja jadinya warga kami tidak sering membantu keluarga Fatimah.” Ungkapnya
Fatiman dikenal sebagai orang yang baik kepada tetangganya, ia selalu membantu warga yang sedang butuh pertolongan.
Mendengar informasi tersebut, Salma beserta Alawiyah dan tim relawan Rumah Yatim yang saat itu sedang menggelar santunan di gampong tersebut langsung menyambangi keluarga Fatimah. “kedatangan kami disambut baik Fatimah dan anak-anaknya,” kata Salma
Dalam obrolannya, Fatimah bercerita bahwa anak-anaknya sekarang sedang bersekolah. Anak pertama Fatimah masih duduk dikelas VII SMP, anak kedua kelas V SD, ketiga kelas II SD dan yang bungsu kelas I SD. “Alhamdulillah untuk kebutuhan sekolah mereka mendapat bantuan dari pihak sekolah dan warga.” Kata Fatimah
Mendengar cerita tersebut, Salma memberi saran kepada Fatimah agar anak-anaknya dijadikan anak asuh mukim Rumah Yatim. “Insya Allah bu jika anak-anak menjadi anak asuh Rumah Yatim maka kehidupan dan pendidikannya akan terjamin.” Kata Salma mengutarakan sarannya
Fatimah pun meminta waktu untuk memberi keputusan antara menjadikan semua anaknya menjadi anak asuh mukim Rumah Yatim atau hanya anak pertama dan kedua saja. “Alhamdulillah terima kasih atas sarannya, saya sangat senang mendengarnya, saya ingin mereka bersekolah sampai ke perguruan tinggi supaya mereka bisa mengapai cita-cita mereka, semoga Rumah Yatim menjadi jalan mereka untuk sukses. Beri saya waktu untuk membujuk mereka dan memberi keputusan terbaik.” Ungkapnya
Sebelum berpamitan, Salma beserta tim relawan Rumah Yatim memberikan 2 paket sembako untuk Fatimah dan anak-anaknya. “Bu, ini ada titipan amanah dari para donatur kami, semoga amanah ini bisa menjadi berkah.” Kata Salma
“Amanah ini akan sangat bermanfaat untuk kami, semoga Rumah Yatim dan para donatur selalu diberkahi Allah.” Ujar Fatimah
Apresiasi untuk Anang Bastian salah satu penerima Santunan Dai RY Banjarmasin
Berteman sepeda bututnya Anang Bastian mengunjungi rumah-rumah untuk mengamalkan ilmu baca tulis Qur’anya ke orang-orang yang membutuhkan bantuanya. Kegiatan pria berusia 59 tahun itu sudah dia lakoni 10 tahun kebelakang.
Dia merupakan salah satu da’i yang mendapatkan santunan dari Rumah yatim . melihat kegigihanya maka Rumah Yatim pun mengapresiasinya dengan memberikan santunan da’i tersebut, atas itu Anang pun sangat berterimakasih karena selama ini dia hanya pekerja sukarelawan yang kadang diberi, kadang tidak atau hanya kadang-kadang diberi beras saja.
“alhamdulillah terimakasih Rumah Yatim, semoga berkah dan semoga Rumah Yatim semakin Maju.” Ujarnya.
Itulah Anang sosok pria sederhana yang tak mau menggantungkan dirinya pada orang lain, meski kini dia tinggal bersama putri simata wayangnya namun dia tidak serta merta pensiun dari pekerjaanya, dia terus mengayuh sepedanya menebarkan ilmu agama kerumah-rumah, memberikan cahaya islam pada tiap rumah yang dia kunjungi. Hal itu pulalah yang membuat Abdurahman salah satu Staff Rumah Yatim Banjarmasin yang turut bersama Deni Rustandi Kepala Cabang membagikan santunan yang digelar pada 21 Nopember 2016 merasa kagum terhadap beliau.
“diantara para da’i yang disantuni perjuangan beliaulah yang paling membuat saya terharu dan terinsfirasi karena keikhlasanya.” Ujarnya.
Menekan angka kemiskinan Dinas Sosial bekerjasama dengan Rumah Yatim Surabaya
“Setiap tahunnya angka kemiskinan di sini terus meningkat” Ujar Bambang Hartono kepala Kelurahan Putat Jaya Jl. Raya Dukuh Kupang No. 5 Kecamatan Palahan Surabaya.
Penyebab meningkatnya angka kemiskinan di kelurahan tersebut salah satu faktornya adalah terdapatnya daerah bekas lokalisasi dolly yang membuat para eks dollynya tidak mampu bertahan hidup karena mereka harus beralih profesi baru dimana mereka harus menjadi tenaga kerja baru atau harus menciptakan lapangan pekerjaan.
Namun menurut dinas Sosial yang merekomendasikan wilayah ini, pihak pemerintah sudah all out memberikan berbagai santunan untuk kesejahteraan mereka.
Untuk meminimalisir angka kemiskinan yang terus bertambah itu pihak dinas sosial pun bekerjasama dengan pihak swasta salah satunya Rumah Yatim Surabaya yang bersedia menyalurkan 100 paket sembako untuk membantu warga.
Menurut Muslihudin ada sekitar 114 Rukun Tetangga di kelurahan ini, dan 100 mustahik yang disantuni adalah perwakilan dari tiap RT, secara otomatis karena pemberian sangat selektif jadi yang disantuni juga tepat sasaran.
“tiap RT mengirmkan 1 perwakilannya dan diprioritaskan para lansia jompo, janda dan dhuafa dan perwakilan terbanyak adalah dari eks dolly.” Muslihudin, Kepala Cabang Rumah Yatim Surabaya
Selain paket sembako Rumah Yatim Surabaya pun menyalurkan 87 Dus Susu Formula bayi 0-6 bulan dan diberikan langsung kepada kelurahan agar dapat tepat sasaran tentunya untuk diberikan kepada warga dhuafa yang memiliki bayi.
Meninjau banyaknya masyarakat yang belum tersantuni, Muslih berharap Rumah Yatim akan kembali menyantuni masyarakat disana, karena menurut hasil survey ada sekitar 200 lebih warga kurang mampu yang benar-benar layak untuk dibantu.
“untuk menghilangkan kesenjangan, kami ingin kembali menggulirkan kembali program ini, karena untuk sekarang kan segmennya kan hanya untuk lansia, sedangkan disini masih banyak fakir miskin bahkan anak yatim yang belum kami santuni, dan mudah-mudahan ada suport dari donatur agar kami bisa kembali membantu.” Tambah Muslihudin.
40 Anak Yatim dan Dhuafa Lampung Sambut Santunan Pendidikan Rumah Yatim
Selain membagikan santunan kepada para mustahiq yang sudah di dalam naungan Rumah Yatim, mereka juga menyantuni para mustahiq baru. Seperti yang dilakukan belum lama ini kepada 40 anak yatim dan dhuafa di sebuah kawasan di sekitar Kedaton, Bandar Lampung.
“Kami membagikan santunan pendidikan berupa uang tunai kepada 40 anak yatim dan dhuafa yang masing-masing terdiri atas, 20 murid TPA masjid (yatim-dhuafa), 10 dhuafa, 5 tuna netra, dan 5 pemulung. Kegiatan ini insidental, Alhamdulillah ada rezeki lebih dari para donatur kami yang harus disalurkan,” ucap Kepala Asrama Kedaton Hendy.
Walau spontan, Hendy menerangkan, tetap mempersiapkan santunan ini melalui survey dan pendataan. Hanya saja prosesnya lebih mudah, salah satunya dengan mengenal langsung mustahiqnya dengan mendatangi langsung ke lokasi.
“Jadi ini pengenalan kepada lingkungannya, kita lihat anak-anaknya, orangtua dan guru-guru mereka,” lanjutnya.
Dari bantuan tersebut mereka menyambutnya dengan gembira dan terharu, karena mereka masih kesulitan untuk membeli sarana pendidikan, seperti buku-buku dan alat tulis. Terkait hal tersebut, ia menambahkan, ingin di kesempatan lain dapat membantu mereka dengan rutin member bantuan logistik yang bermanfaat.
Belajar Tangguh dari Sosok Karta
Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang sedang dirasakan Karta (50) beberapa tahun terakhir ini, dengan musibah yang terus berdatangan tidak membuat Karta berpikir bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesialan. Bagi Karta, musibah ini adalah sebuah cobaan yang akan menguatkan dirinya.
Musibah dimulai ketika anak bungsunya yang masih berusia dua tahun mengalami down syndrom. Mengetahui hal tersebut membuat Karta beserta Saliha (45) istrinya harus bekerja keras agar bisa membawa sibungsu ke tempat terapi. Namun, karena pekerjaan Karta yang hanya sebagai pemulung membuatnya harus menunda rencana besarnya. “Penghasilan saya bersama istri hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari, terpaksa keinginan membawa sibungsu terapi harus ditunda.” Kata Karta
Selang beberapa bulan dari cobaan yang menimpa bapak dua anak ini, Saliha istri Karta divonis menderita kanker payudara stadium 3. “Istri saya tidak pernah mengeluhkan apapun mengenai penyakitnya, tapi ketika kondisi istri saya semakin melemah, saya langsung membawanya ke dokter. Saya sangat terpukul ketika mengetahui bahwa istri saya terkena kanker payudara stadium 3.” Ungkap Karta
Dengan mengandalkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Karta memerintahkan si sulung yang saat itu berusia 20 tahun untuk rutin membawa istrinya ke dokter. Menurut Karta, dirinya tidak bisa membawa istrinya ke dokter karena ia harus bekerja.
Menurut Karta, istrinya sudah empat kali di kemoterapi.
Hal tersebut bisa dilihat dari kondisi rambut istrinya yang mulai botak, kondisinya semakin melemah. Sekarang istrinya hanya bisa mengandalkan kuris roda untuk melakukan berbagai kegiatan.
Musibah tidak hanya sampai disitu saja, anak sulung Karta meninggal akibat penyakit angin duduk yang ia derita. “Anak saya yang sulung meninggal dengan tiba-tiba, saya beserta keluarga sangat terpukul dengan musibah ini.”ungkap Karta
Anak sulung Karta merupakan tulang punggung keluarga setelah Karta, ia pun sering membawa Saliha cek up. Sepeninggal anaknya, semua beban dipikul Karta. “Alhamdulillah, ibu saya sekarang tinggal bersama keluarga untuk mengurusi sibungsu dan istri.” Kata Karta
Sepeninggal anaknya, Karta harus ekstra kerja keras, Karta pun harus membagi waktunya untuk membawa istri cek up dan mengurusi keluarganya. “Kadang saya tidak konsenterasi ketika bekerja, saya suka kepikiran anak dan istri saya.” Ungkap Karta saat bercerita kepada Weli kepala asrama Rumah Yatim Tanjung Karang
Sebelumnya, Weli diceritakan seorang pemulung sekitar asrama Tanjung Karang bahwa ada rekan sesama pemulungnya yang baru saja tertimpa beberapa musibah. Mengetahui hal tersebut, Weli mengajak beberapa tim dari Rumah Yatim untuk menyambangi kediaman Karta yang jaraknya tidak jauh dari Rumah Yatim. Sesampainya dikediaman Karta, Weli bersama tim Rumah Yatim disambut hangat Saliha, sibungsu, ibu Karta dan Karta.
“Pak, tujuan kami menyambangi kediaman bapak adalah kami terinspirasi dengan ketegaran bapak. Kami pun ingin memberikan amanah ini, semoga amanah ini dapat menjadi berkah dan manfaat untuk bapak dan keluarga.” Kata Weli sembari memberikan santunan kepada keluarga Karta
Menurut Weli, Karta sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Rumah Yatim, ingin rasanya berkunjung ke Rumah Yatim namun ia merasa malu. “Beliau kenal dengan pak Dwi kepala asrama RY Tanjung Karang sebelum saya, beliau sering melewati Rumah Yatim karena beliau ingin menemui pak Dwi namun karena malu jadinya ia selalu mengurungkan niatnya itu.” Ungkapnya
Weli mengatakan kepada Karta bahwa pintu Rumah Yatim selalu terbuka untuk Karta dan keluarganya.
“Terima kasih karena telah berkunjung dan peduli kepada keluarga kami, semoga Allah membalasnya berlipat ganda.” Ungkap Karta
“ Ingin rasanya menyerah, namun ketika saya melihat ketangguhan istri menghadapi penyakitnya, kepolosan anak dengan down syndromnya dan kesabaran ibu yang ikhlas membantu mengurusi anak dan istri, keinginan untuk menyerah seakan-akan hilang begitu saja.
Saya pun berpikir bahwa diluar sana masih banyak orang yang kondisinya lebih terpuruk melebihi kondisi saya saat ini namun mereka memilih tetap kuat dan tabah. Saya yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kapasitas hamba-Nya, saya yakin Allah sedang merencanakan suatu hal terindah bagi hamba-Nya” ungkapnya
Anak Asuh Rumah Yatim Lampung Ikut Pecahkan Rekor MURI di Kejurnas Danrem Lampung Open
Asrama Rumah Yatim Kedaton yang dikenal dengan anak asuhnya aktif di bidang olahraga beladiri Tae Kwon Do kembali menerjunkan mereka berkompetisi. Sebanyak 26 anak asuh yang terdiri atas 6 anak asuh mukim dan 20 anak asuh non mukim dalam Kejurnas Danrem Lampung Open 1st National Championship pada 19-20 November 2016 di Gedung Sumpah Pemuda, PKOR Way Halim, Bandar Lampung.
Kegiatan bergengsi ini selain diisi oleh pertandingan, juga memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yaitu pemecahan papan oleh 1100 orang atlet Tae Kwon Do. Pemecahan papan serentak dilakukan di lapangan, dengan saling berhadapan.
Masing-masing peserta memegang papan, dengan aba-aba dari panitia, papan bersama-sama dihancurkan. Caranya bergantian, pertama dengan ditendang. Kemudian kedua kalinya, mereka memukul papan sampai hancur dengan dipukul. Hendy terkesan dengan kegiatan yang seru dan menyenangkan ini.
Sedanhkan pada pertandingan, anak asuhnya, Ferdiansyah ikut di pertandingan kelas 45 kg atlet melawan Riau dan Jambi. Walau sempat diwarnai sedikit kericuhan karena perolehan poin yang kurang seimbang, Ferdiansyah mendapat tempat kedua di kategori atlet terbaik dan juara ketiga kategori fighter.
“Untuk medali, ada 3 anak asuh kami yang dapat, juara 1 dan 3 kategori fighter oleh anak asuh non mukim, sisanya juara harapan, sedangkan juniornya mengikuti kompetisi di kategori keindahan gerak, dan iku bersama memecahkan papan menembus rekor MURI", ujar Hendy.
Sedangkan yang memperoleh piala bergilir sebagai juara umum ialah Provinsi Riau dan Provinsi Lampung di tempat kedua, dengan total keseluruhan penilaian yang berselisih tipis. Namun, bagi mereka para atlet dari Jambi-lah yang jadi lawan paling tangguh.
Hendy mengatakan," bagi beberapa anak asuhnya, terutama yang junior, terjun di medan laga yang bergengsi ini merupakan pengalaman pertama kalinya". Ia cukup memperhatikan para anak asuhnya itu selama mengikuti pertandingan, apalagi kompetisi ini dipenuhi peserta yang berpengalaman.
Sempat pula ada yang batal bertanding karena kondisi stamina yang menurun.
Bagaimanapun, lanjutnya, para anak asuhnya itu tetap merasa bangga berada di kompetisi ini. Setiap hal yang mereka dapatkan jadi pengalaman berharga yang jadi bekal untuk lebih baik di kesempatan lainnya. Dan mereka bersyukur menjadi bagian pemecah rekor MURI.
Pada kesempatan ini, Staf Khusus Danrem 043/GATAM Kajasrem Kapten Sabar mengapresiasi semangat dan keikutsertaan para anak asuh. Ia merasa bangga dan bahagia melihat mereka tampil dan percaya diri bertanding. Seperti yang disampaikannya melalui Hendy, sai tuan rumah hal ini jadi pelajaran untuk berikutnya. Rencananya akan kembali diadakan pertandingan liga akbar professional antar klub se-Lampung.
Rabu, 23 November 2016
Membuka Jendela Prestasi dan Masa Depan Gemilang di Elfitra
Elfitra adalah sekolah unggulan yang Rumah Yatim yang berdiri sejak 2014. Saat ini, sekolah yang terletak di Jalan Cibodas Raya No. 49, Antapani, Kota Bandung itu memiliki 326 siswa pada jenjang SD
Sekolah ini memiliki konsep pendidikan yang memadukan Alquran sebagai sumber pedoman hidup dan ilmu pengetahuan serta perkembangan sains sebagai indikasi perkembangan teknologi dan peradaban. Konsep pendidikan itu tidak lain ditujukan untuk mencetak generasi yang professional, Mandiri dan berkarakter.
Tidak heran, jika lulusan sekolah seluas 3.000 meter persegi itu akan tampil beda dibandingkan siswa lain. Bahkan, saat masih duduk di bangku sekolahpun, para siswanya mampu menorehkan prestasi di kancah kota hingga nasional.
Selama 2,5 tahun ini berdiri, SD Elfitra berhasil meraih 40 piala di bidang pen-didikan dan olahraga. Prestasi itu didapat melalui 17 kali juara 1 dan 2 tingkat kecamatan dalam perlombaan olahraga dan kaligrafi, 16 kali juara 1 dan 2 tingkat kabupaten dan kota bidang olimpiade Bahasa Ingris, matematika dan sains.
Di tingkat nasional, Elfitra dua kali berhasil meraih medali perunggu tingkat nasional pada Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia (OMSI). Terakhir, Elfitra berhasil meraih medali perunggu dalam OMSI yang berlangsung di Tangerang, Banten, 10 November 2016.
Sementara SMP Elfitra yang berjumlah 138 siswa telah juga mengukir prestasi delapan kali menjadi juara tingkat Provinsi Jawa Barat dalam bidang olimpiade matematika, sains, dan olahraga. Siswa Elfitra jenjang SMA yang berjumlah 83 anak pun tidak ingin kalah dalam berprestasi, yakni dengan meraih dua kali juara bidang olahraga pencak silat tingkat Provinsi Jawa Barat dan menjuarai lomba fotografi pelajar tingkat nasional.
Prestasi lain yang didapat oleh siswa SMA Elfitra, yakni menjuarai Olimpiade ASEAN GEO SMART tingkat ASEAN. Bahkan, ke depannya Elfitra akan semakin mematangkan siswanya agar mampu menjuarai sejumlah perlombaan hingga tingkat internasional.
Salah satu siswa kelas 6 di SD Elfitra yang berhasil meraih medali OMSI Sana Syakira mengaku optimistis bisa meraih prestasi pada perlombaan selanjutnya. Menurut dia, konsep pendidikan yang diterapkan di sekolahnya sangat memudahkan siswa untuk memahami substansi mata pelajaran.
“Kami bangga sekolah di Elfitra,disini saya banyak belajar tentang Qur'an dan Ahlak, ilmu pengetahuan dan sains bahkan belajar robotic’’ ujar Sana. Di Elfitra, dirinya banyak mendapatkan ilmu agama, karakter dan sains. Dengan belajar di Elfitra, dirinya merasa dibukakan pintu masa depannya.
Gedung sekolah SD Elfitra di jalan Cibodas Raya Antapani merupakan salah satu sekolah yang didirikan oleh Rumah Yatim. Saat ini, Rumah Yatim tengah menargetkan pendirian beberapa sekolah jenjang SD SMP hingga SMA diberbagai kota kabupaten. Yang terdekat Rumah Yatim akan segera membangun gedung sekolah Elfitra untuk tingkat SMP dan SMA di daerah Riung Bandung Jawa Barat. Pendirian sekolah itu ditujukan untuk mengeliminasi kasus putus jenjang pendidikan yang dialami anak yatim dan dhuafa di Tanah Air.
Diawal tahun 2017 mendatang Rumah Yatim berencana mendirikan beberapa sekolah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak bangsa. “Kami meyakini bahwa pendidikan adalah salah satu kunci utama membangun peradaban sebuah bangsa dan pendidikan pulalah semua persoalan sosial bisa segera diminimalisir.,” Ujar Nugroho Dirut RY. l ril
Senin, 21 November 2016
Bersama Dinsos Tegal, Rumah Yatim Santuni 200 Mustahik Wilayah Margadana dan Sesepan
Menurut Pusat Data Statistik kota Tegal, bulan Oktober 2016 di Kota Tegal terjadi inflasi sebesar 0,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 122,18 lebih tinggi dibanding IHK Bulan September 2016 sebesar 121,91 dengan inflasi sebesar 0,07 persen.
Akibat dari inflasi tersebut, harga kebutuhan primer semakin melonjak dari waktu kewaktu, kenaikan harga cenderung terjadi terhadap kebutuhan yang secara umum diperlukan, salah satu diantaranya kebutuhan primer pangan seperti beras, minyak dan lain sebagainya.
Dampak inflasi tersebut sangat dirasakan masyarakat Tegal dari berbagai kalangan terutama dari kalangan menengah kebawah, dampak tersebut juga sangat dirasakan masyarakat wilayah Margadana dan Sesepan yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani.
Rumah Yatim dengan “program kemanusiaan” mencoba membantu pemerintah untuk meringankan beban masyarakat Indonesia terutama masyarakat Tegal.Direkomendasikan Dinas Sosial Tegal, Rumah Yatim cabang Tegal hadir dikedua wilayah tersebut. Dibantu beberapa relawan, Syafrudin selaku kepala cabang Rumah Yatim Tegal memberikan santunan 200 paket sembako untuk 200 mustahik dikedua wilayah tersebut.
Kegiatan digelar diwaktu yang berbeda, untuk santunan pertama digelar di TPA (Tempat Pendidikan Anak) Paham Qur’an kelurahan Margadana, sabtu (19/11), kegiatan dilanjutkan pada minggu (20/11) di SD Sesepa 02. Kedua kegiatan tersebut langsung dihadiri perwakilan dinsos setempat , kepala sekolah, lurah, RW, RT dan masyarakat setempat.
santunan diberikan kepada 200 mustahik yang terdiri dari lansia, janda, anak yatim, buruh tadi dan pedagang kecil. “Alhamdulillah kelurahan Margadana kedatangan tamu istimewa dari Rumah Yatim, sebelumnya kami belum pernah mendapat bantuan seperti ini, kami khususnya saya merasa terharu karena mendapat bantuan ini. Semoga bantuan ini rutin dibagikan agar dapat meringankan beban kami.” Ungkap Raswen (80) salah satu warga kelurahan Margadana
“Kami dari Dinas Sosial sangat sangat mendukung dan mengapresiasi program Rumah Yatim, semoga Rumah Yatim semakin maju dan semakin meluas. Alasan kami merekomendasikan kedua wilayah ini karena kami percaya dengan Rumah Yatim.” Ujar Reza selaku perkailan dinsos Tegal
Menurut Syafrudin, dari kedua kelurahan yang disambangi Rumah Yatim. Kelurahan Margadana merupakan kelurahan yang masih minim dari segi pendidikan kediniyahannya. “Kediaman kepala sekolah dijadikan TPA, walaupun kondisinya sempit dan seadanya namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat anak-anak belajar agama.” Katanya
“Anak didik di TPA ini sangatlah banyak sedangkan pengajar dan fasilitasnya sangat kurang, semoga kedepannya kita bisa membantu mereka. Karena semangat tinggi mereka untuk belajar harus didukung dengan fasilitas dan pengajar yang memadai.” Tambah Syafrudin
Wakaf Quran Rumah Yatim Cemara
"program wakaf dan buku merupakan program yang sangat bagus karena pahalanya akan terus mengalir dari yang membacanya, yang mendapatkanya, yang menyalurkannya dan tentu yang mewakafkanya semuanya mendapatkan pahalanya.” Ujar Omah, Kepala Asrama Rumah Yatim Cemara Bandung.
Dalam kontribusinya Rumah Yatim Cemara telah mendistirbusikan Al-Qur’an dan Iqro, Riadussalihin dan buku Tadwidj kepada Masjid Al-Hidayah yang selama ini selalu menjadi bagian dari keluarga Rumah Yatim Cemara.
Masjid Alhidayah Merupakan salah satu mesjid yang berada disekitar asrama. Pemberian wakaf Qur’an ini bukanlah kali pertama karena ditahun-tahun sebelumnya pernah pula mendapatkan wakaf Al-Qur’an bahkan pembagian sembako dan yang lainya pun sering diberikan.
Karena selain difungsikan sebagai tempat untuk sholat mesjid ini pun dipakai untuk kegiatan taman pendidikan Al-Qur’an maka tak salah kiranya jika Omah merasa perlu meremajakan kembali qur’an-qu’ran disana juga perlu menambahnya dengan buku-buku penunjang pendidikan kediniahan anak-anak.
“Alhamdulillah, semua amanah ini dapat disalurkan ketempat yang tepat ini sebagai bukti bahwa Rumah Yatim dapat menjaga amanah para donaturnya, juga sebagai bentuk kerjasama antara Rumah Yatim dan warga sekitarnya.” Papar Omah
Copyright ©
Rumah Yatim | Powered by Blogger
Design by Flythemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com













